Benarkah Hukum Karma Itu Benar Benar Ada?
Benarkah Hukum Karma Itu Benar Benar Ada?
Pertanyaan ini mungkin sering bergema di benak setiap orang ketika dihadapkan pada realita kehidupan yang terkadang terasa tidak adil. Kita sering mendengar kalimat bijak yang mengatakan bahwa apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu tuai. Jika kamu menabur kebaikan, maka kebaikanlah yang akan kembali menghampirimu. Jika kamu melukai hati orang lain, maka pada akhirnya duri pun akan menusuk dirimu sendiri. Konsep ini dikenal luas sebagai Hukum Karma, sebuah hukum alam yang dianggap mutlak, menjaga keseimbangan semesta, dan berlaku bagi siapa saja tanpa memandang status atau jabatan. Namun, di saat yang sama, mata kita sering melihat hal yang bertolak belakang. Kita melihat orang yang begitu baik, jujur, dan dermawan justru hidupnya penuh dengan kesulitan dan air mata. Sementara di sisi lain, ada mereka yang perilakunya jauh dari kata benar, sering menyakiti, atau licik, tapi hidupnya justru terlihat mudah, mewah, dan penuh kemudahan. Fenomena inilah yang sering membuat orang bertanya, benarkah hukum ini benar-benar bekerja? Atau jangan-jangan ini hanyalah mitos belaka untuk menenangkan hati orang yang tertindas?
Dalam pandangan filsafat dan ajaran Hindu, jawabannya sangat tegas: Hukum Karma itu nyata, absolut, dan tidak pernah salah sasaran. Hanya saja, cara kerjanya jauh lebih kompleks daripada yang bisa dipahami oleh logika manusia yang terbatas. Karma berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "perbuatan" atau "tindakan". Namun maknanya tidak berhenti pada tindakan fisik semata, melainkan mencakup segala pikiran, perkataan, dan perbuatan yang dilakukan oleh makhluk hidup. Setiap getaran energi yang kamu keluarkan, baik itu positif maupun negatif, akan meninggalkan jejak yang disebut Samskara, yang kemudian akan menjadi daya tarik untuk menarik pengalaman serupa kembali kepadamu. Ini adalah hukum sebab-akibat yang bekerja layaknya hukum gravitasi; kamu tidak perlu melihatnya untuk percaya bahwa ia ada, karena efeknya selalu bisa dirasakan.
Kitab suci Bhagavad Gita memberikan penjelasan yang sangat mendalam mengenai hal ini. Dalam Bab 3 Ayat 15, dikatakan bahwa "Karma berasal dari Brahman, yang kemudian terwujud dalam Weda, dan akhirnya tercermin dalam segala perbuatan. Oleh karena itu, Weda yang bersifat segala ilmu pengetahuan selalu menganugerahkan segala sesuatu yang sesuai dengan perbuatannya." Ayat ini menegaskan bahwa hukum ini bukan dibuat-buat oleh manusia, melainkan berasal dari sumber kehidupan itu sendiri, sehingga sifatnya abadi dan tidak bisa diubah. Lebih lanjut lagi, dalam Bab 8 Ayat 13 hingga 16, dijelaskan bahwa setiap makhluk hidup terikat oleh buah dari perbuatannya sendiri. Tidak ada satu pun atom perbuatan yang sia-sia. Semuanya terekam dan akan menghasilkan reaksi pada waktunya masing-masing.
Salah satu alasan kenapa kita sering merasa bingung dan mengira karma itu tidak bekerja adalah karena kita tidak memahami pembagian jenis karma itu sendiri. Dalam ajaran Siddhanta dan kitab Manava Dharmasastra, dikenal adanya pembagian karma menjadi tiga bagian utama, yaitu Sanchita Karma, Prarabdha Karma, dan Kriyamana Karma. Sanchita Karma adalah kumpulan seluruh perbuatan dari kehidupan-kehidupan lampau yang belum mendapatkan giliran untuk membuahkan hasil. Prarabdha Karma adalah bagian dari karma yang sudah "matang" dan sedang berjalan saat ini, yang menjadi takdir atau nasib yang sedang kita alami sekarang. Sedangkan Kriyamana Karma adalah perbuatan yang sedang kita lakukan saat ini yang akan menjadi bekal untuk masa depan.
Maka, apa yang kamu alami hari ini belum tentu balasan langsung dari apa yang kamu lakukan minggu lalu. Bisa jadi itu adalah lunasan hutang energi dari ratusan tahun lalu atau kehidupan lampau yang baru saat ini waktunya tiba. Sebaliknya, kebaikan besar yang kamu tanam hari ini mungkin belum terlihat hasilnya dalam bentuk uang atau jabatan sekarang, tapi percayalah, ia sedang bekerja melindungimu dari bencana besar yang tidak kamu ketahui, atau ia akan berbunga indah di waktu yang tepat di masa depan. Seperti yang tertulis dalam Bhagavad Gita Bab 6 Ayat 5, bahwa "Diri sendiri adalah teman bagi diri sendiri, dan diri sendiri pula adalah musuh bagi diri sendiri." Artinya, kebahagiaan dan penderitaanmu adalah ciptaan dari tangan dan pikiranmu sendiri.
Jadi, jangan pernah terpengaruh oleh apa yang hanya terlihat oleh mata kasar. Orang yang terlihat sukses dan berkuasa meski berbuat jahat, itu mungkin karena masa lalunya yang baik sedang membayarnya sekarang, atau itu adalah cara alam memberikan kebebasan seluas-luasnya sebelum akhirnya mereka menanggung akibat yang jauh lebih berat di kemudian hari. Begitu juga orang baik yang sedang menderita, bisa jadi itu adalah proses pembersihan sisa karma buruk agar ia bisa terbang lebih tinggi dan lebih bersih. Hukum karma tidak pernah tidur, tidak pernah pilih kasih, dan tidak pernah salah alamat. Seperti firman dalam Bhagavad Gita Bab 9 Ayat 7-10, bahwa alam semesta ini berjalan di bawah aturan-Nya, dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan hukum sebab dan akibat yang telah ditetapkan sejak awal waktu.
Komentar