Jika nasib sudah ditentukan oleh karma, untuk apa kita berdoa dan sembahyang?
Jika nasib sudah ditentukan oleh karma, untuk apa kita berdoa dan sembahyang? Pertanyaan ini sering muncul dan menjadi salah satu pemahaman yang paling sering disalahartikan dalam ajaran Hindu. Banyak orang berpikir: jika segala sesuatu yang kita alami—baik itu rezeki, penyakit, kebahagiaan maupun kesusahan—adalah hasil dari perbuatan masa lalu yang sudah tertulis dan pasti terjadi, lalu apa gunanya kita bersembahyang, berdoa, atau berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan? Apakah semua itu sia-sia, hanya sekadar upacara, atau usaha yang tidak mengubah apa pun? Jawabannya terletak pada pemahaman mendalam tentang hukum karma dan makna sejati doa, yang dijelaskan sangat rinci dan jelas dalam kitab suci Weda, Bhagavad Gita, Manawa Dharmasastra, serta lontar-lontar warisan leluhur Bali seperti Lontar Tatwa Dharma dan Lontar Kamadhatu. Pertama, kita harus meluruskan pengertian karma itu sendiri. Dalam ajaran Hindu, karma bukanlah takdir mati yang tidak bisa diubah, melainkan hukum...