Postingan

Apakah Makna Tumpek Krulut Hanya Sekadar Menghormati Gamelan?

Apakah Makna Tumpek Krulut Hanya Sekadar Menghormati Gamelan?   Saniscara Kliwon Wuku Krulut atau yang kita kenal sebagai hari Tumpek Krulut, sering disebut juga sebagai Otonan gong atau gamelan. Secara umum banyak yang memahami bahwa pada hari ini kita melaksanakan persembahan bakti kepada alat musik gamelan, sebagai karya seni yang diciptakan manusia untuk menciptakan keselarasan, keindahan, keserasian, dan keharmonisan di alam semesta atau Bhuana Agung. Kita berterima kasih atas irama yang ditimbulkannya, yang mampu menghibur hati, menenangkan jiwa, dan menyatukan perasaan orang yang mendengarnya, sehingga kedamaian senantiasa terjaga di tengah kehidupan bersama. Namun benarkah makna yang terkandung di dalamnya hanya berhenti di penghormatan terhadap benda atau alat musik semata? Ternyata pesan yang disampaikan jauh lebih dalam dan menyentuh hakikat keberadaan kita sendiri.   Jika di alam semesta yang luas ini ada gamelan yang menciptakan harmoni lewat bunyinya, maka di dal...

Pelaku Harus Dihukum Berat.

Pelaku Harus Dihukum Berat. Kasus pembunuhan seorang pria yang diduga mencuri ayam di Tabanan kembali mengingatkan kita pada satu hal yang mendasar: tidak ada alasan yang bisa membenarkan pengambilan nyawa orang lain, sekecil apa pun kesalahan yang dilakukannya. Saya tidak sedang membela perbuatan mencuri,. Namun nyawa adalah hak mutlak Tuhan, dan tangan manusia tidak berhak mengakhirinya secara sepihak, apalagi dengan kekerasan yang mematikan.   Jika ada yang melakukan kesalahan atau pelanggaran, jalan yang benar adalah menyerahkannya kepada pihak berwajib. Kita tidak boleh mengambil alih peran hukum sendiri, apalagi sampai merenggut nyawa sesama manusia. Membunuh pelaku kejahatan tidak akan memperbaiki keadaan, justru menambah derita baru: satu kesalahan disambut dengan kejahatan yang jauh lebih besar.   Oleh karena itu, pelaku pembunuhan ini mutlak harus diusut dan dijatuhi hukuman yang berat sesuai undang-undang yang berlaku. Bukan karena kita membenarkan pencurian ayam, m...

Bakar Mayat Bukan Nyiksa.

Bakar Mayat Bukan Nyiksa. (Tulisan ini tidak membahas desa desa di Bali yang tidak menggelar Ngaben atau membakar jenazah) Saya sering banget dapet komentar macam ini, kayak yang baru2 ini dikatakan sama akun fb @Raya Zulfa, katanya kok umat Hindu tega banget ya bakar mayat, nggak kasihan apa jasadnya kepanasan dibakar? Padahal jujur aja nih ya, kita sebagai orang Bali atau siapa pun sebenernya udah paham banget: jasad yang udah nggak berjiwa itu udah nggak punya rasa apa-apa. Dia nggak bakal ngerasain panas, nggak ngerasain perih, nggak ngerasain apa pun lagi, karena yang punya rasa itu rohnya, yang udah berpisah sama raga ini.   Terus kalau dibilang lebih baik dikubur aja, terus apa bedanya coba? Dikubur ditimbun tanah atau ditumpuk batu pun jasad itu sama sekali nggak bakal ngerasain sakit atau sesak. Prosesnya emang beda, tapi intinya sama aja: merawat raga yang udah ditinggal rohnya menurut cara yang kita percaya dan kita hormati. Nggak ada yang lebih tega atau nggak tega, yan...

Miris melihat Tempat Suci yang Terkunci.

Miris melihat Tempat Suci yang Terkunci.   Sangat miris ketika mendengar saudara-saudara kita di Lombok mau masuk ke pura, namun tak diperbolehkan untuk melaksanakan persembahyangan. Di saat jiwa mereka sudah siap memusatkan pikiran, dan memohon petunjuk kepada Sang Hyang Widhi, justru halangan datang dari tangan sesama manusia—pintu pura dikunci, akses ditutup rapat, seolah-olah hak paling dasar untuk mendekat kepada Yang Maha Agung dirampas begitu saja.   Peristiwa ini terasa semakin menyakitkan jika kita merenungi ajaran yang senantiasa kita junjung tinggi: bahwa tempat suci adalah rumah bagi umat Hindu, pelindung bagi setiap jiwa yang mencari ketenangan, dan bukan milik sekelompok orang yang berhak melarang orang lain sembahyang. Sejak dahulu, budaya toleransi dan rasa saling menghormati telah hidup rukun di tanah Nusantara, termasuk di pulau yang indah ini; perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi alasan untuk saling menutup jalan persembahyangan, melainkan justru menjadi...

Tukang harus profesional

Tukang harus profesional Jadi tukang apa aja itu kuncinya cuma satu yaitu profesional. Gak peduli lo tukang jahit, tukang bangunan, servis HP, atau apa pun kerjanya, nama baik lo itu mahal banget—lebih mahal dari bayaran yang lo terima. Jadi orang yang kerja itu harus bisa dipegang omongannya, pas ada janji harus ditepati, pas ada waktu penyelesaian harus tepat waktu. Kalau emang gak sanggup kerjain, gak punya waktu, atau gak yakin bisa selesai sesuai janji, jangan pernah terima pesanan itu. Jangan sampai janji manis di awal, tapi ujungnya bikin orang nunggu lama, kecewa, bahkan rugi gara-gara lo telat atau gak sesuai harapan.   Inget deh, orang percaya sama lo bukan cuma karena lo jago kerjanya, tapi karena lo bisa dipercaya. Pas lo terima pesanan, itu tandanya lo udah kasih janji sama orang lain. Kalau lo ingkar janji atau telat seenaknya, itu sama aja lo rusak kepercayaan yang udah dikasih. Dan percayalah, kepercayaan yang udah hilang itu susah banget buat dibalikin lagi. Kalau ...

Nabi Muhammad dan Kitab Suci Hindu, Nggak Ada Kaitannya.

Nabi Muhammad dan Kitab Suci Hindu, Nggak Ada Kaitannya. Oke jadi gini, banyak banget yang nanya di kolom komentar atau debat di medsos: "emang bener Nabi Muhammad itu disebut di kitab suci Hindu?" Jawaban singkatnya: nggak ada.  Kitab suci utama umat Hindu itu Veda. Isinya ada 4: Rigveda, Yajurveda, Samaveda, Atharvaveda. Terus ada juga Upanishad, Bhagavad Gita, Mahabharata, Ramayana. Nah isinya itu mostly tentang konsep Ketuhanan, dharma, karma, reinkarnasi, kisah para dewa, resi, dan ajaran hidup. Fokusnya ke spiritualitas dan aturan hidup di India kuno. Nabi Muhammad lahir di abad ke-6 Masehi di Arab. Sementara Veda itu umurnya udah ribuan tahun sebelum Masehi. Timeline-nya aja udah beda jauh. Jadi wajar kalau di dalam teks aslinya nggak bakal nemu nama "Muhammad" secara eksplisit. Ibarat buka buku sejarah Majapahit terus nyari nama Elon Musk, ya nggak bakal ketemu. Terus dari mana sih isu "disebut di kitab Hindu" itu muncul? Biasanya dari tafsir beber...

Tentang Larangan Tutup Jalan Pas Piodalan.

Tentang Larangan Tutup Jalan Pas Piodalan.   Jujur, aku nggak setuju banget kalau wakil rakyat melarang penutupan jalan pas ada piodalan. Di Bali, upacara adat itu nggak cuma sekadar acara biasa, tapi napas hidup dan jati diri kita. Kadang jalannya emang harus dipakai sebentar biar prosesi berjalan aman, dan nggak mengganggu kendaraan yang lewat. Ini sudah kebiasaan leluhur kita dari dulu, dan masyarakat sudah saling mengerti sama hal ini.   Jalan yang dipakai buat upacara itu sebentar aja, nggak selamanya ditutup. Kenapa harus dilarang keras sampai mengganggu jalannya upacara adat kita? Wakil rakyat seharusnya mengerti dan mendukung pelestarian budaya kita, bukan malah bikin aturan yang mempersulit kita menjalankan kewajiban keagamaan dan adat. Kita juga tetap menghargai pemakai jalan lain, tapi momen suci seperti piodalan juga pantas dihargai dan dihormati. Jangan sampai kemudahan aktivitas harian malah bikin budaya dan adat kita jadi terpinggirkan.      

Printilan Banten Gak Harus Mahal & Ribet

Printilan Banten Gak Harus Mahal & Ribet Menanggapi pernyataan iqgorila78 bahwa kalau banten itu mahalnya bukan di isinya, tapi di printilannya yang katanya mahal, susah dicari, dan hampir semua harus dibawa dari luar Bali. Terus dia bingung: sebenernya tulus sih tulus, tapi kalau bahannya nggak ada gimana? Kalau uang nggak ada gimana? Terus sempat kepikiran juga, apa boleh pakai kelapa bekas asalkan nggak ketahuan?   Eits, tunggu dulu. Sering banget kita salah sangka, mikir bikin persembahan itu pasti ribet, mahal, dan susah nyarinya. Padahal faktanya? Printilan itu sebenernya simpel banget, nggak mahal, dan bahannya ada di mana-mana di sekitar kita. Nggak semua harus didatangkan dari jauh atau luar pulau. Kebanyakan itu sebenernya karunia alam yang tumbuh subur banget di tanah kita sendiri.   Contohnya gampang banget: bunga-bunga segar, daun-daunan, kelapa, atau air. Semua itu gampang didapat, entah di halaman rumah, kebun belakang, atau lingkungan sekitar. Nggak perlu b...