Apakah Makna Tumpek Krulut Hanya Sekadar Menghormati Gamelan?

Apakah Makna Tumpek Krulut Hanya Sekadar Menghormati Gamelan?
 
Saniscara Kliwon Wuku Krulut atau yang kita kenal sebagai hari Tumpek Krulut, sering disebut juga sebagai Otonan gong atau gamelan. Secara umum banyak yang memahami bahwa pada hari ini kita melaksanakan persembahan bakti kepada alat musik gamelan, sebagai karya seni yang diciptakan manusia untuk menciptakan keselarasan, keindahan, keserasian, dan keharmonisan di alam semesta atau Bhuana Agung. Kita berterima kasih atas irama yang ditimbulkannya, yang mampu menghibur hati, menenangkan jiwa, dan menyatukan perasaan orang yang mendengarnya, sehingga kedamaian senantiasa terjaga di tengah kehidupan bersama. Namun benarkah makna yang terkandung di dalamnya hanya berhenti di penghormatan terhadap benda atau alat musik semata? Ternyata pesan yang disampaikan jauh lebih dalam dan menyentuh hakikat keberadaan kita sendiri.
 
Jika di alam semesta yang luas ini ada gamelan yang menciptakan harmoni lewat bunyinya, maka di dalam diri manusia yang disebut Bhuana Alit pun tersimpan "gamelan" yang sejati, yaitu suara perkataan yang keluar dari lisan kita. Tumpek Krulut mengajarkan kita untuk tidak hanya menghormati bunyi besi yang dipukul, melainkan juga wajib menyucikan bunyi yang keluar dari mulut kita sendiri. Hari tersebut adalah momen yang paling tepat untuk melakukan Mulat Sarira atau introspeksi diri. Merenungkan kembali apa saja yang telah kita ucapkan, dan bertekad menjaga ucapan agar senantiasa baik, sopan, dan benar sesuai ajaran Wacika. Sebagaimana nada gamelan yang selaras menciptakan keindahan, ucapan yang terjaga akan melahirkan rasa kasih sayang, kedamaian, keharmonisan, dan keselarasan hubungan antarmanusia, bahkan antara manusia dengan alam dan Tuhannya.
 
Kekuatan perkataan ini ditegaskan dengan sangat jelas dalam Kitab Nitisastra, Sargah V Bait 3 yang berbunyi: “Wasita nimittanta manemu laksmi, wasita nimittanta pati kapangguh, wasita nimittanta manemu duhka, wasita nimittanta manemu mitra”. Artinya adalah: oleh perkataan engkau akan mendapat kebahagiaan dan kemakmuran, oleh perkataan engkau pula bisa menemui ajal atau kehancuran, oleh perkataan engkau akan mendapatkan kesusahan dan penderitaan, dan oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat serta orang-orang yang menyayangimu. Dari Sloka ini terlihat nyata bahwa lisan kita adalah alat yang paling berkuasa, bisa menjadi berkah yang membawa kebaikan besar, namun bisa pula menjadi bumerang yang mendatangkan malapetaka jika tidak dijaga dengan sebaik-baiknya.
 
Maka penghormatan yang sesungguhnya pada hari Tumpek Krulut bukan hanya sekadar memberi persembahan pada gong dan kendang, melainkan menyadari bahwa setiap kita adalah pemegang kendali atas harmoni di sekitar kita lewat apa yang kita ucapkan. Biarlah hari ini menjadi pengingat abadi agar kita senantiasa menjaga "gamelan" di dalam diri kita agar tetap terdengar indah, menyejukkan hati pendengarnya, dan selaras dengan kehendak Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga damai sejahtera senantiasa menyertai langkah kita semua.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Dosa Sudah Ditebus, Mengapa Masih Ada Karma Wasana di Kehidupan Sekarang?

Mengapa Rejeki Tak Sesuai Harapan?

Jika Tuhan Maha Pengampun, Mengapa Orang Berbuat Buruk Tetap Dihukum?