Orang Bali Tidak Menjadi Penonton.
Orang Bali Tidak Menjadi Penonton.
Kalo denger pendapat yang bilang orang Bali cuma jadi penonton di tanahnya sendiri atau aturan adat itu bikin susah maju, saya mau kasih tanggapan ya? Jgn langsung percaya mentah2, karena kenyataannya nggak sesederhana itu.
Pertama, anggapan bahwa orang Bali semuanya cuma diam dan nggak berkembang itu salah besar. Buktinya banyak banget warga lokal yang sukses membangun usahanya sendiri. Contoh jelasnya ada Anak Agung Gde Agung, Raja Gianyar terakhir yang nggak cuma jaga adat, tapi juga jeli lihat peluang. Beliau sukses bangun bisnis pariwisata dan perhotelan, bahkan mendirikan Hotel Bali Beach di Sanur yang sampai sekarang jadi salah satu ikon akomodasi di Bali. Jadi nggak benar kalau dikira orang Bali cuma diam lihat orang lain maju.
Memang bener jumlah pendatang ke Bali makin banyak setiap tahunnya, tapi itu bukan berarti merugikan. Justru kehadiran mereka ikut menggerakkan roda perekonomian dan membuka lapangan kerja baru. Sekarang banyak bermunculan usaha baru kayak startup, ruang kerja bersama, sampai tempat makan dan kafe kekinian. Bisnis-bisnis ini malah banyak menyerap tenaga kerja lokal, baik di bidang digital, jasa, maupun pariwisata. Jadi pertumbuhan itu sebenarnya bisa dinikmati bersama, bukan cuma milik satu pihak saja.
Terus soal tuduhan bahwa sistem di Bali itu “tajam ke dalam, tumpul ke luar”, itu juga nggak berdasar. Coba lihat I Gusti Ngurah Rai, pahlawan nasional asal Badung. Keberanian dan perjuangannya lewat Perang Puputan Margarana diakui dan dihormati seluruh Indonesia, bukan cuma di dalam pulau saja. Kalau benar orang Bali cuma galak sesama sendiri dan lemah ke luar, nggak mungkin ada tokoh yang namanya harum sampai ke tingkat nasional kayak gini.
Lalu soal pendapat yang bilang “banyak kewajiban adat, wajib ini wajib itu, bayar ini bayar itu, kegiatan ini kegiatan itu — bikin susah maju”, itu juga anggapan yang keliru. Buktinya ada Ni Made Ayu Marthini, yang sekarang menjabat Dirjen Pemasaran Pariwisata di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Beliau lahir dan besar di lingkungan desa adat, tetap ikut semua aturan banjar dan kewajiban adat, tapi tetap bisa melangkah jauh sampai jadi pejabat tinggi di tingkat pusat. Jadi adat itu bukan belenggu, tapi justru fondasi yang bikin pribadi lebih kuat dan disiplin.
Begitu juga soal pendatang dianggap lebih gampang maju karena nggak terikat aturan adat. Itu pandangan yang nggak tepat. Lihat saja Dewa Made Beratha, mantan Gubernur Bali yang menjabat dua periode. Beliau tumbuh, berkarya, dan memimpin daerah ini sambil tetap menjalankan semua aturan adat, kewajiban banjar, dan tata krama desa adat yang dibilang “menyusahkan” itu. Nyatanya beliau tetap bisa maju, memimpin provinsi ini, dan membawa banyak perubahan positif. Ini bukti nyata kalau aturan adat itu bukan penghambat kesuksesan, melainkan bagian dari identitas yang bikin kita tetap berjalan di jalur yang benar.
Jadi kesimpulannya, nggak perlu buru-buru bilang sistemnya harus diubah seenaknya atau dibuat seringan mungkin sampai kehilangan maknanya. Selama aturan itu tetap relevan dan bisa dijalankan dengan bijak, orang Bali nggak akan pernah jadi penonton di tanah sendiri, dan nggak akan sampai harus pergi merantau ke luar pulau cuma karena merasa nggak punya ruang berkembang. Kita bisa maju dan sukses, tetap sambil menjaga apa yang jadi jati diri kita.
Komentar