Miris melihat Tempat Suci yang Terkunci.

Miris melihat Tempat Suci yang Terkunci.
 
Sangat miris ketika mendengar saudara-saudara kita di Lombok mau masuk ke pura, namun tak diperbolehkan untuk melaksanakan persembahyangan. Di saat jiwa mereka sudah siap memusatkan pikiran, dan memohon petunjuk kepada Sang Hyang Widhi, justru halangan datang dari tangan sesama manusia—pintu pura dikunci, akses ditutup rapat, seolah-olah hak paling dasar untuk mendekat kepada Yang Maha Agung dirampas begitu saja.
 
Peristiwa ini terasa semakin menyakitkan jika kita merenungi ajaran yang senantiasa kita junjung tinggi: bahwa tempat suci adalah rumah bagi umat Hindu, pelindung bagi setiap jiwa yang mencari ketenangan, dan bukan milik sekelompok orang yang berhak melarang orang lain sembahyang. Sejak dahulu, budaya toleransi dan rasa saling menghormati telah hidup rukun di tanah Nusantara, termasuk di pulau yang indah ini; perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi alasan untuk saling menutup jalan persembahyangan, melainkan justru menjadi kekuatan yang mengajarkan kita untuk saling menjaga kedamaian sesama anak manusia. Ketika pintu tempat suci dikunci agar umat tak bisa masuk, sesungguhnya yang tertutup bukan hanya pintu bangunan itu, melainkan pintu hati, pintu persaudaraan, dan pintu rasa saling percaya yang telah dibangun lama dengan susah payah.
 
Kita paham betul bahwa setiap umat beragama memiliki hak yang sama untuk melaksanakan persembahyangan sesuai ajaran masing-masing, tanpa rasa takut, tanpa tekanan, dan tanpa larangan yang tidak beralasan. Melihat saudara kita harus menahan diri, menahan harapan, dan pulang dengan hati yang berat karena tak bisa melaksanakan sembahyang, sungguh menjadi luka bersama yang seharusnya membuat kita semua merenung, bukan membenarkan tindakan yang memisahkan sesama. Keberagaman seharusnya menjadi hiasan yang memperindah persaudaraan, bukan alasan untuk saling merenggangkan apalagi menindas. Semoga peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua, agar kita senantiasa menjaga rasa hormat dan kasih sayang di antara perbedaan, dan semoga pintu tempat suci itu segera terbuka kembali—bukan hanya pintu bangunannya, melainkan pintu hati yang terbuka lebar untuk saling menghargai, menjaga, dan membiarkan setiap makhluk beribadah menurut jalan keyakinannya masing-masing dengan aman dan damai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Dosa Sudah Ditebus, Mengapa Masih Ada Karma Wasana di Kehidupan Sekarang?

Mengapa Rejeki Tak Sesuai Harapan?

Jika Tuhan Maha Pengampun, Mengapa Orang Berbuat Buruk Tetap Dihukum?